Google Ads
Who's Online
  • 0 Members.
  • 1 Guest.
Top Posts
  • Falun Gong Bukan Sekedar Latihan Fisik

    Falun Gong Bukan Sekedar Latihan Fisik

    Pada kesempatan kali ini saya akan mengutarakan sedikit pemahaman saya setelah membaca judul ‘Pada Tingkat Berbeda Berlaku Fa yang Berbeda Tingkat’ pada Ceramah I, Buku Zhuan Falun. Saya memahami Falun Gong atau Falun Dafa bukan hanya sekedar mengajarkan latihan fisik kepada para Praktisinya. Namun, Falun Gong juga mengajarkan ‘latihan jiwa’ atau ...

    Read More

  • Lambang Falun Dafa (Photo : www.falundafa.or.id)

    Falun Gong Mengajarkan Kultivasi Sejati

    Sebagian masyarakat Indonesia rasanya cukup sering mendengar Falun Gong atau Falun Dafa. Namun, rasanya tidak begitu banyak yang tahu, apa itu Falun Gong. Banyak yang mengira, Falun Gong adalah metode pengobatan alternative, metode kesehatan, bahkan ada juga yang mengira Falun Gong adalah agama atau semacam sekte. Bahkan, tidak sedikit yang mengira Falun ...

    Read More

  • Cover buku Zhuan Falun versi Bahasa Indonesia

    Kultivasi dan Kesehatan Sempurna

    Pada Januari 2002, waktu itu saya masih kelas dua STM  adalah pengalaman yang paling luar biasa dalam hidup saya. Suatu ketika, saya menemukan brosur Falun Dafa di rumah saya, saya tinggal di daerah Bukit Jimbaran, sekitar 40 kilometer arah selatan Kota Denpasar. Ketika membaca-baca brosur itu, saya benar-benar merasa tertarik, saya ...

    Read More

1 2 3

Pantai Parangtritis, Parisnya Jogja

novel-mengejar-mimpi

Novel Mengejar Mimpi di Toko Buku.

Bab I
Pantai Parangtritis, Paris-nya Jogja

“Sudah, Ga usah dipikirin. Bukan cuman satu bintang di langit!”
“Hiks. Tapi cuman satu yang sinarnya paling terang. Huaa….Hiks. Scroootttt!!!”
“Ih, kamu ini, kayak anak kecil kehilangan boneka aja. Nangis sampai ingusan segala.”
“Hiks. Boneka paling ganteng sedunia. Limitid Edition lagi.”
“Cup…cup…cup… Udah, mending kita hang out aja yukkk, ke Amplaz yuk, sambil cuci mata…”
“Ga mau…Pokoknya ga mau, aku mau Bara balik sama aku…”

Kinan, Dayu dan Josephine berusaha keras menentangkan dan menghibur Intan, teman satu angkatan mereka di Jurusan Manajemen Universitas UPN ini. Intan sedih dan menangis sejadi-jadinya di Kompleks Kantin Kampus UPN.

Dia baru saja diputusin sama Bara. Padahal mereka baru satu bulan jadian. Tragisnya, alasan Bara mutusin Intan karena dia menemukan pengganti yang jauh lebih cantik, manis dan seksi serta jauh lebih bonafid, mahasiswi Fakultas Hukum yang setiap hari ngampus pake mobil citicar matic.

Padahal, Intan adalah gadis yang nyaris tiada cela. Wajahnya yang bulat telur halus alami semakin manis dengan poni dipotong rata hingga setengah centi diatas alis.

Tubuhnya yang kurus, dengan berat badan 55 kilogram dan tinggi 165 memang proprsional. Jika dilahap dari ujung rambut hingga ujung kaki, rasanya tidak ada yang cacat. Apalagi, jika dia menggunakan hotpants, dan kaos youcansee. Rasanya tidak akan ada cowok yang sanggup menahan agar air liurnya, agar tidak menetes dari ujung bibir.

Sayangnya, dia tidak begitu suka berdandan, membuatnya tampak dipecundangi gandengan baru si Bara. Apalagi, rambutnya suka dikuncir ekor kuda, yang membuatnya seperti anak ingusan yang baru menginjak bangku SMP.

Terlebih, suaranya yang cempreng dan rada latah, barangkali sering membuat Bara ilfil. Tentu saja, kalau sudah galau seperti ini, sahabtnya pun jadi ikut-ikutan kehilangan muka, malu sendiri, jika ada teman kampus yang lain memperhatikan mereka berempat, ketika Intan menjerit ‘kesetanan’.

Usaha tiga sahabat Intan sejak setengah jam lalu, belum membuahkan hasil. Bahkan, tangis Intan makin menjadi-jadi. Dia bahkan tidak menghiraukan belasan mahasiswa lain yang melirik, menoleh dan mencibirnya.

“Gimana kalau kita ke Paris aja?!” usul Kinan.

“HAH??! JAUH AMAT?!” jerit Dayu.

“Maksudku ke Pantai Parangtritis, parisnya jogja! Lola amat sih?!” sahut Kinan lagi.

“HAH?! PARIS?!!” kali ini giliran Intan yang menjerit. Namun, “Mau-mau-mau, setidaknya kalau Bara ga bisa balik, kenangan waktu kami jadian masih bisa balik hari ini,” gumam Intan lirih.

Intan langsung bangkit dari duduknya, “Sroot-sroottt,” dan menghirup kembali ingus yang hampir menetes dari lubang hidungnya.

Dia kemudian langsung berlari kecil meninggalkan kantin menuju parkiran motor.

“Tunggu Tan! Sabar dikit donk, ini kan masih siang,” teriak Kinan, namun dia tetap bangkit menyambar tas, dan ikut-ikutan berlari mengejar Intan.

Dayu dan Josephine pun ikut-ikutan berlari kecil  mengejar Intan.

Setiba di parkiran sepeda motor, Intan langsung men-starter motornya.

“Eh sini, aku aja yang bawa. Setidaknya kalo kamu mo bunuh diri nabrak truk, aku ga ikutan lewat,” ujar Kinan setengah bercanda sambil merebut stang motor Intan.

“IIhhh, apaan sih,” balas Intan sambil memukul kecil bahu Kinan. Benar-benar seperti anak SMP yang sedang rebutan sepeda kayuh. Namun Intan, mengalah dan turun dari sepeda motornya.

“Kin, aku ga ikut aja ya. Masak siang-siang ke Pantai, gosong nanti?!” ujar Dayu.

“Eh, tunggu-tunggu…” Josephine merogoh tasnya,  kemudian menyodorkan sebuah gambar sketsa tangan pada Kinan.

“Pantai Paris mirip kayak gini gak?” tunjuk Josephine dengan raut wajah serius. Kinan pun melirik keheranan ke wajah Josephine. Baru kali ini sahabatnya itu melontarkan pertanyaan yang serius.

Dia pun menyimak sketsa gambar itu, dan berusaha mengingat-ingat sesuatu.

“Ya, bener, ini pantainya. Ini Pantai Paris,” gumam Kinan serius, karena tau pertanyaan Josephine juga serius.

“Yuk mbak Dayu. Kita ikutan yuk!”

Dayu tidak bisa menolak, karena Josephine yang minta. Mereka memang selalu bersama sejak tiba di Jogja dan mulai menjadi mahasiswa baru sejak sebulan yang lalu. Dan dalam segala kesempatan, Dayu hampir selalu mengalah.

Leave a Reply

Google Search